Keterlaluan. Itu adalah kata pertama yang muncul dalam benak Saya ketika melihat berita di beberapa televise kita. Astana giri bangun sudah dipenuhi oleh wartawan, dari berbagai penjuru dan dari berbagai media. Saya hanya berpikir, jika Saya jadi keluarga besar SOeharto, bagaimana perasaan Saya ya? Sejelek-jeleknya beliau, toh dia tetap orang tua, dan memiliki anak. Anak-anak tetaplah mencintai orangtuanya, bagaimanapun adanya ayahnya. Sekilas kemarin, di salah satu TV swasta, Saya melihat Bambang, dia mengatakan, “Untuk rakyat Indonesia yang masih mecintai Soeharto, kami keluarga beliau, mohon di doakan agar Bapak cepat sembuh…” Ya! Untuk yang MASIH mencintai. Mungkin beliau sadar, bahwa tidak semua orang cinta dengan ayahnya. Mungkin sekali beliau tahu, begitu banyak yang mendoakan kematian ayahnya. Sungguh pahit! Mantan penguasa orde baru itu masih berjuang untuk hidup, “Kondisi bapak memang tidur, tapi semangat juangnya untuk hidup luar biasa.” Demikian salah seorang da’I muda berkomentar ketika dia berkunjung ke RSPP tempat Mantang Penguasa bertarung nyawa.

Kemarin, masih kemarin, saya juga menonton salah satu stasiun TV yang menanyangkan Astana Giri bangun. Pulang dari bepergian, begitu sampai rumah,
Saya melihat siaran ini. Karena Saya tidak melihat acaranya dari awal, Saya langsung bertanya-tanya, “Soeharto sudah mati?”. Bagaimana tidak. Pembawa acaranya menyatakan begini, “Jenazah Pak Harto akan diperlakukan layaknya sebagai penguasa, seperti Ibu Tien pada saat pemakamannya. Sejumlah polisi dan pasukan akan melakukan persiapan blab la bla…” Ya! Saya masih ingat bagaimana Ibu Tien, proses pemakamannya, dulu. Seluruh televisi menayangkan proses pemakaman dari Jakarta hingga Karang Anyar. Jalanan sepi. Rakyat dihipnotis untuk terus memelototi tabung kaca berwarna di tiap rumah. Begitu banyak tentara, ada satu orang anaknya yang terus berada disisi beliau dan membacakan ayat suci Al_Quran. Akan begitukah proses pemakaman Soeharto, jika beliau wafat, dilakukan?

Pagi ini, Saya lihat liputan lagi. Di layar kaca Saya terlihat kesibukan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Astana Giri Bangun, terlihat mereka sedang menata kursi, tenda dan sound system. Hah? Pikir Saya cepat, “Lho kok mereka siap-siap seperti akan diadakan upacara? Upacara pemakaman? Sudah tipiskah harapan keluarga untuk kesembuhan Ayahanda, Eyang yang tercinta?” Ada kapolda yang mengunjungi pemakaman Ibu Tien juga berikut dengan rombongan mereka.

Sementara liputan di Jakarta menyatakan, “Kondisi Pak Soeharto sudah membaik, pernapasan sudah diambil alih oleh beliau yang tadinya masih dilakukan oleh respirator (mungkin begitu tulisannnya, Saya nggak tahu juga dengan alat kedokteran). Tapi Soeharto masih tidur. Dibuat tidur oleh tim dokter kepresidenan.

Pertanyaannya, begitu banyak yang dating… tapi apakah yang ada di hati masing-masing orang? Doa kesembuhan ataukah hanya menunggu gong kematian berbunyi? Sayang…