“Semua yang ada di bumi itu akan binasa; tapi Dzat Tuhanmu akan tetap kekal, yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.” (QS 55: 26-27)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ….” (Ali Imran : 185)

Ya! Tinta emas yang telah menuliskan nama seorang manusia, telah habis. Lembaran-lembaran buku telah ditutup, untuk satu nama Soeharto. Mantan Presiden ke-2 RI. Tulisan kehidupan Soeharto telah ditulis sendiri oleh beliau, apakah penuh dengan tinta emas atau tinta merah darah, hanya si pemilik buku dan penciptanya yang tahu. Allah, Sang Maha. Dia mengetahui yang paling tersembunyi dari dalam diri manusia, bias melihat benda hitam yang kecil dibalik batu hitam dalam gelap malam. Dia, Sang Maha Perkasa, tempat kita semua kembali.

Saya pikir tadinya tidak akan ada airmata yang mengalir dari rakyat untuk sang jendral. Ternyata cukup banyak juga butir air mata berjatuhan. Banyak juga rakyat kecil yang menangisi beliau dan mendoakan beliau. Sementara, kaum intelektual lebih banyak menghujat beliau dan memaparkan kesalahan-kesalahan beliau. Saya pikir, rakyat yang polos, yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi begitu tulus mendoakan, gejala apa ini? Apakah kita perlu belajar dari yang berpendidikan rendah? Belajar untuk tidak lagi mengungkit kesalahan orang yang telah pergi, belajar untuk tulus memaafkan?

Saya mendengarkan Mbak Tutut yang mengucapkan pidato nya, meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Saya masih belum terharu. Tetapi begitu beliau mengatakan, “Bapak,… selamat jalan Bapak. Doa kami selalu menyertai Bapak…” ya! Airmata sayapun mengalir. Saya bisa merasakan betapa besar kehilangan seorang anak terhadap kepergian bapaknya. Bagaimanapun, seorang Mbak Tutut tetap sebagai seorang anak, dari seorang manusia biasa.

BJ Habiebie menyatakan dalam salah satu wawancara dengan TV, Soeharto pernah mengatakan, “Habiebie, kamu tahu kan, kalau anak itu adalah titipan Allah kepada orang tuanya?”.”Ya, Saya tahu.” Jawab Habiebie. “Sejak saya menikah sampai sekarang, Saya belum bias memberikan waktu Saya kepada titipan Allah itu…” Saya terenyuh, ternyata beliau adalah seorang ayah yang peduli dan sayang kepada anak-anaknya. Dan beliau merasa waktunya telah habis dalam mengurus Negara, hingga kurang bias memperhatikan anak-anaknya.

Hm, ternyata Astana Giri Bangun itu melambangkan kebanggaan seorang Soeharto terhadap Indonesia. Tangganya berjumlah 17 anak tangga, dan 8 anak tangga. Ini melambangkan 17 Agustus, Indonesia merdeka! Begitu bangganya beliau dengan Indonesia sampai-sampai tempat peristirahatan beliau yang terakhir masih melambangkan kecintaannya terhadap Indonesia.

Terlepas dari semua kontroversi tentang sosok seorang mantan presiden, dia tetap manusia biasa yang menyayangi anak-anak, istri dan keluarganya. Mungkin, seharusnya, kita cukupkan segalanya sampai disini. Dibukakan pintu maaf yang seluasnya untuk beliau, karena tidak ada lagi perbuatan yang lebih mulia daripada memberikan maaf dan Allah telah menjanjikan ganjaran surga bagi yang memaafkan.

Saya pikir, adalah takdir bahwa Soeharto adalah seorang Presiden. Jauh sebelum beliau ada, Allah telah menuliskan takdir untuk seorang Soeharto bahwa dia lahir, jodoh dan mati di tempat tertentu. Bahwa, Soeharto akan menjadi seorang Presiden. Itulah takdir, ada yang ditakdirkan menjadi petani dan ada yang ditakdirkan menjadi seorang Presiden. Mungkin amanat yang diemban, pada awalnya dilakukan dengan sangat baik dan mulus, sayang kekayaan dan kekuasaan telah membutakan mata hati manusia. Mungkin manusia lain akan berbuat hal yang sama atau bahkan lebih parah dari seorang SOEHARTO.

Ya, selamat jalan Bapak.. semoga dilapangkan jalanmu dan diterima segala amal perbuatan mu oleh Allah.

Advertisements