Here’s the latest word on surviving an angry marriage: have a fight. It could save your life.

Kaget dengan pernyataan diatas? Iya! Kalau mau hidup lebih lama, maka FIGHT YOUR SPOUSE! 

Studi ini dilakukan Michigan University.  Pasangan yang bertengkar, jika menekan perasaan marahnya akan membuat orang yang menekan kemarahan tersebut kehilangan kesempatan untuk hidup lebih lama?  Tidak percaya?  Baca lanjutannya.

Mengapa bisa demikian?  Karena menekan kemarahan ternyata akan membuat orang depresi dan tekanan darahnya menjadi tinggi.

“What intrigued me was the percent of double deaths, where they both died,” research scientist Ernest Harburg said in an interview.

Penelitian yang dilakuan sejak tahun 1971 ini membagi 166 pasangan ke dalam 4 group, dimana setiap pasangan mengakui bahwa mereka menekan kemarahannya dan tidak menunjukkan kemarahannya pada pasangannya.

3 dari grup tersebut terdiri dari pasangan dimana salah satunya menekan kemarahan, tetapi tidak keduanya.  Keuda pasangan yang meninggal sebanyak 6% dari semua pasangan yang diteliti.

Grup ke-4, yaitu grup yang menekan kemarahannya (dari kedua belah pihak), sebanyak 23% istri dan suaminya meninggal.

“Anger is interesting in the American culture,” Ernest Harburg said. “You’re not supposed to express your anger. That’s the norm, and we have to ease out of that norm and say it’s healthy to express your anger and move on to solve the problem.”

Of course, he doesn’t mean that if a husband and wife get into a dispute they should declare war on each other. The trick is to make sure the other person knows you’re angry, and then try to “achieve consensus.”

Jadi, ternyata bukannya harus langsung melampiaskan kemarahan kepada pasangan!  Tapi, ada caranya :

“First, you have to listen,” kata Harburg. “You have to understand the other person’s point of view. You have to understand your own point of view. And then you have to use your imagination to resolve the problem. Some people are good at it, but most people aren’t.”

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

  • 50% dari 26 pasangan – kedua pasangan menahan amarah – setidaknya 1 meninggal.  Dibandingkan dengan 25% dimana hanya satu orang dari pasangan yang menahan kemarahannya.
  • 35% suami dan 15% istri – grup yang menahan kemarahan – grup ini meninggal, dibandingkan dengan 17% suami dan 7% istri yang tersisa dari grup ini. 
  • Kebanyakan wanita (tidak seperti pria) mengekspresikan perasaan negatif dan positifnya dan ingin di respon, jika tidak mereka akan merasa diabaikan.
  • Kemarahan yang ditahan dan perenungan setelahnya diantara para wanita lebih intens, lebih sering, lebih lama dibanding dengan pria, dimana akan membuat terapi kejiwaan fisiologis yang lebih dalam.  
  • Pasangan dimana suami mengeskspresikan kemarahan dan istri menahan kemarahannya memiliki tingkat kematian yang rendah, temuan yang disebut sebagai “unexpected” oleh peneliti.
  • Dari sekian banyak kesimpulan penelitian ini, ternyata ada juga yang unexpected, karena mungkin dengan ini teori yang tersusun menjadi mentah kembali.  Jadi, hubungan kematian dengan mengekspresikan kemarahan harus dikaji kembali.

    Advertisements