Sungguh keterlaluan sifat pelupa Peter (27). Setiba di rumah kontrakannya sehabis berbelanja, ia kaget setengah mati. Soalnya mobilnya tak terparkir digarasi. Ia lalu bertanya kepada teman-temannya, apakah ada yang melihat siapa yang memakai mobilnya. Ia semakin bingung karena tak memperoleh jawaban. Mereka baru saja pulang dan mobilnya sudah tidak ada di garasi. Ketika seorang teman bertanya, ia dari mana dan Peter menjawab baru dari BIP
(sebuah pusat perbelanjaan di Bandung), ia langsung disambar dengan pertanyaan, “Naik apa?” Peter langsung memukul jidatnya. Segera ia balik ke BIP untuk mengambil mobilnya yang masih berada di tempat parkir BIP.
Bukan sekali itu Peter melakukan hal yang membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala. Ada kejadian yang lebih menggelikan dan fatal akibatnya. Waktu itu ujian akhir semester. Entah karena capai atau pusing mengerjakan soal, sepulang ujian ia langsung tidur. Malam harinya ketika ingin mengecek jawaban, kontan ia teriak-teriak. Ternyata lembar jawaban soal tidak terkumpul bersama soalnya. Justru kertas corat-coret dan kerpekan yang terkumpul. Seketika ia langsung lemas dan pasrah kalau tidak lulus.
Lain lagi dengan David Moobs. Ia juga seperti Peter, sering lupa di mana memarkir mobilnya. Gawatnya lagi, hampir setiap hari ia menduga mobilnya telah dicuri. Suatu kali pernah ia pergi ke toko membeli susu, tapi yang terbawa sampai rumah malah roti dan coklat. Tak jarang ia lupa memperbarui paspornya padahal kopor sudah siap menemani ia berlibur.

 

Keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya
dilakukan tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus, berdasarkan pada dua pertanyaan. Pertama, apakah informasi tersebut memiliki  arti emosional bagi yang bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam  dalam memori kita daripada nama seorang menteri tertentu dalam kabinet yang usianya hanya 2 bulan. Minat khusus, atau berkadar sensasional, oke. Hal yang biasa-biasa saja, sori!
Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi.  Hal-hal yang dianggap takkan berguna tidak akan disimpan di dalam memori. Alias, lupakan saja. Dengan sistem filter ini, manusia sanggup menguasai dan melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Pada beberapa kasus istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super. Data yang betapa ruwet pun dapat mereka ingat. Namun, jangan kagum dulu. Umumnya daya pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka,
mereka tak kenal makna. (Sumber : http://health.groups.yahoo.com/group/dokter_umum/message/14772)

dari penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan
asuransi di Massachusetts yang menyimpulkan, gugatan malpraktek lebih banyak ditujukan kepada dokter tua dibandingkan dengan dokter muda. Dean K. Whitla (71), ahli ilmu jiwa Harvard, pernah menguji 1.000 dokter berumur antara 30 dan 80 tahun. Hasilnya, secara rata-rata dokter berusia 80-an hanya bisa mengingat setengah informasi dibandingkan dengan mereka yang berusia 30-an.

 

Overload
Menurut Jed Diamond, terapis dan pengarang Male Menopause, penyakit lupa sebagian disebabkan oleh gangguan hormonal yang ditandai dengan beberapa gejala seperti sifat lekas marah.
Untunglah, hal itu bersifat sementara, “Dan bisa diredakan dengan penambahan hormon di bawah pengawasan dokter, olahraga, serta pelbagai bentuk pengurangan stres.”
Gerald Celente (51), pendiri Trends Research Institute di Rhinebeck, New York, yang mengaku sering kelupaan sesuatu sehingga tiap kali harus kembali ke kantor, berpendapat, meski umur membuat kemunduran itu, “tapi kerja keras dan terlampau sibuk juga pegang peranan.”
Memang abad informasi saat ini pada akhirnya membawa implikasi tersendiri, sehubungan dengan terbatasnya kapasitas otak. Overload. Seperti yang dituturkan oleh Pamela Boyd (48), seorang guru SD di Olympia, Washington,
“Saya harus ingat kode angka untuk mematikan alarm di rumah. Kemudian kode pos daerah saya diperbarui. Untuk masuk ke lobi apartemen saya yang baru, saya juga harus memencet-mencet kode dulu. Belum lagi nomor Jaminan Sosial saya (di AS ini amat penting), e-mail, nomor telepon, dan faksimili,” kata Boyd.

 

Orang muda juga
Tepatlah apa yang dikatakan oleh Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis baru. Hal itu diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori sudah dialami oleh orang-orang muda, usia akhir 20-an. Mereka, misalnya, sering lupa wajah dan nama seseorang selama beberapa saat. Atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba lupa sama sekali.
Tim Xerox menuding semakin kompetitifnya kehidupan masa kini sebagai salah satu penyebabnya. Ini bisa ditengarai dengan semakin panjangnya jam kerja kantor. Tuntutan kehidupan juga membuat orang menjadi bunglon pekerja alias mendobel. Entah menjadi dosen luar biasa atau konsultan. “Kehidupan yang sangat sibuk memungkinkan Anda manjadi pelupa,” kata Dr.Abigail Sellen, salah seorang peneliti.

 

Studi terbaru malah menunjukkan, bedah operasi menggunakan bius total juga bisa menimbulkan masalah berkaitan dengan memori dan konsentrasi.
Apa yang terjadi dengan otak mereka?

 

Bagaimanapun juga otak manusia terbatas kemampuannya. Sementara informasi yang tersebar di dunia ini tak terbatas. Oleh sebab itu McGannon memberi nasihat, “Biasakan berkonsentrasi pada satu hal. Kemudian istirahat untuk menjernihkan pikiran dan baru mulai yang lain.” Ia juga mengusulkan agar kita tidak perlu mencemaskan banyak hal. Sebagai manusia modern, orang sering terjebak pada pemikiran bahwa membaca koran merupakan keharusan. Apalagi dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Tapi, apakah hidup kita tergantung kepada semua yang tertulis di koran tersebut? Menurut McGannon, ketika Anda cemas, pikiran dipenuhi berbagai hal. Lahan untuk memori menjadi tersita dan akhirnya lupalah Anda akan beberapa hal.
McGannon kemudian menambahkan, cara terbaik untuk mengatasi penyakit lupa adalah beristirahat yang cukup untuk memberikan kesempatan otak berelaksasi. Ini bisa dilakukan, semisal, dengan tidur selama lima menit, mengambil napas dalam-dalam, melakukan meditasi pagi dan malam, serta berolahraga agar pusat-pusat memori otak dipenuhi darah yang kaya oksigen. Tapi, tambahnya,
yang terpenting adalah menghilangkan perasaan cemas dan jangan terlalu mempersoalkan masalah yang tengah dihadapi. (Dari pelbagai sumber/Yds)

 

http://www.indomedia.com/intisari/1998/agustus/lupa.htm

Dari berbagai sumber ternyata obat peyakit lupa adalah :

    1. Jangan cemas!
    2. Istirahat yang cukup. (tidur selama 5 menit, tarik napas dalam-dalam)
    3. Lakukan meditasi, untuk muslim seharusnya kita sering melakukan dzikir dan shalat malam!
    4. Olahraga yang teratur.
    5. Makan buah APEL!
    6. Dan, JANGAN CEPAT MARAH

Waah jadi pingin nyoba resep ini jadinya… habisnya sifat lupa Saya sudah benar-benar parah.

Mau setor uang ke bank, sudah sampai di banknya, wah.. ternyata lupa bawa bukunya… hari ini sengaja mau tinggal buku karena sudah mencatat no rek di HP .. eh HP-nya ketinggalan pula!

Sudah mencatat hal-hal yang harus dilakukan, eh malah catatannya lupa taruhnya dimana…

Oalah.. lupa…lupa… penyaklit ini harus segera hilang!

Advertisements