Dapat e-mail dan ceritanya bagus untuk diketahui umum. Semoga bisa membuat kita lebih berhati-hati dan tidak mengalami hal berikut ini.

Jumat, 30 Januari 2009 | 23:31 WIB

Tanggal 6 Januari, saya mengalami kebobolan lewat mesin ATM non Tunai BCA cabang Sulawesi (Makassar). Pada saat itu saya melakukan transfer ke rekening saya yang lain dengan mesin ATM non tunai sebesar Rp.
2.500.000.

Situasi pada saat itu ada beberapa orang sedang sibuk di mesin ATM tarik tunai, sedangkan saya sedang antri di belakang seorang bapak pada mesin ATM non tunai. Ciri-ciri bapak tersebut : berbaju lengan panjang merah maron, kacamata, tinggi kurang lebih 175cm, ada kumis tipis, usia sekitar 50thn. Beliau sedang menggunakan mesin ATM non tunai sambil melihat-lihat handphonenya.

Setelah selesai, maka saya maju menggunakan ATM. Bapak tersebut kemudian mengantri kembali di belakang saya. Saya berpikir mungkin dia memberikan saya kesempatan untuk duluan transaksi. Setelah memasukkan kartu, kemudian saya menyentuh layar untuk menekan kata transfer, tetapi layar sudah tidak peka. Sehingga saya harus menekan-nekan layar tersebut kurang lebih 3 kali baru layar bisa merespon dan menanyakan pertanyaan berikutnya.

Semua proses begitu, saya harus menekan layar beberapa kali baru kemudian pertanyaan berikutnya muncul. Pada saat saya menekan tombol PIN ATM saya pun, tombolnya sangat keras sehingga saya harus beberapa kali menekan untuk satu angkanya (saya tetap sabar karena berharap cepat selesai). Setelah transfer selesai, saya menekan kata tidak pada pertanyaan dilayar yg menanyakan apakah anda masih mau melanjutkan transaksi? tetapi kartu ATM saya tidak mau keluar (dalam arti tandanya masih merah).

Saya coba lagi 2 kali namun tidak ada perubahan. Karena kondisi kartu ATM pada non tunai ada sedikit bagian kartu yang kelihatan, maka bapak dibelakang saya langsung berkata, Tarik saja mbak. Beberapa saat saya melihat dia, kemudian dia langsung melangkah maju dan menarikkan kartu ATM saya lalu memberikan kartu tersebut kepada saya.

Setelah itu, beliau seperti mengarahkan saya seolah-olah transaksi saya sudah selesai. Sehingga saya berpikiran dengan kartu sudah ditangan, berarti transaksi saya sudah selesai. Saya berjalan pergi dari sana.
Hari itu lewat seolah-olah semua sudah beres. Besoknya tanggal 7 Januari, Mama saya ke bank BCA Sulawesi (Makassar) untuk mengambil dana.
Pada saat diminta memasukkan PIN, seperti biasa Mama saya menekan PIN nya, namun terjadi penolakan. Kali kedua juga sama. Pada saat itu, Mama menelpon saya yang lagi di Jakarta (karena tanggal 6 sore saya berangkat ke Jakarta) menanyakan apakah saya mengubah PIN ATM? Saya bilang tidak.
Kali ketiga, kartu ATM tidak bisa lagi dipakai. kemudian Mama menghubungi customer service dan menurut customer service, PIN sudah diganti dan pada saat buku tabungan kami dicetak, Mama saya heran kenapa dananya sudah berkurang sebesar Rp. 80,000,000,-. Ada 3 nomor rekening yang berbeda yang tercetak dengan nama-nama orang yang tidak kami kenal sama sekali.

Mama saya telpon lagi menanyakan kepada siapa saya mentransfer dana tersebut? Saya bilang tidak, saya hanya transfer Rp. 2.500.000,- Setelah itu tidakada lagi. Lalu saya mendatangi kantor BCA Grand Indonesia untuk melihat situasi yang terjadi. Ada dana yang ditransfer ke 2 rekening BCA yang semuanya di luar kota Makassar total sebanyak Rp. 70,000,000,- dan
1 rekening di bank lain sebesar Rp. 10,000,000,-. Selisih waktu transfer ke rekening saya dan transfer ke rekening-rekening orang lain tersebut hanya berbeda kurang lebih 2 menit (berdasarkan pihak BCA kemudian hari, bahwa dana-dana tersebut langsung ditarik oleh orang-orang yang ditransfer tersebut).

Pada saat saya mengingat ulang dan merangkai kejadian pada saat itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa Bapak yang mencabutkan saya ATM dengan paksa tersebutlah yang pasti membobol rekening saya. Saya menceritakan hal ini kepada Halo BCA untuk memblokir nomor-nomor rekening yang telah menerima dana dari rekening kami dan melihat melalui cctv kejadian tersebut, dan Mama serta saudara saya juga melaporkannya pihak BCA serta polisi. Pada saat saya dihubungi oleh pihak Halo BCA, Ibu itu berkata seharusnya kehati-hatian itu dipihak nasabah.

Beliau menyalahkan saya dengan 3 hal:

1. Kenapa PIN saya ketahuan?

2. Kenapa saya membiarkan orang tersebut menarik kartu ATM saya?

3. Kenapa saya meninggalkan mesin ATM tersebut sebelum melihat layar ATM apakah transaksi sudah benar-benar dinyatakan selesai?

Beliau berkata, BCA akan memproses dan melakukan investigasi serta akan mengirimkan surat pada saat investigasi telah selesai yg kurang lebih 10 hari kerja. Sekarang sudah lewat 10 hari kerja tapi saya tidak mendapatkan kabar sama sekali dari pihak BCA malah saya yang mendatangi kantor cabang pusat Makassar untuk menanyakan perkembangan tersebut.
Namun, hanya mendapatkan jawaban bahwa pihak BCA tidak bisa melakukan apa-apa (dalam artian tidak bisa mengembalikan dana yang kebobolan).

Mereka hanya mengatakan turut bersimpati, mengharapkan lain kali saya lebih hati-hati. Pada saat saya menanyakan bagaimana dengan orang yang ditransferkan uang, mereka hanya mengatakan kebanyakan itu nasabah kalau memang sindikat memakai KTP palsu. Tetapi mereka tidak melakukan usaha-usaha yang dapat membantu meringkus bajingan berkerah putih.

Dalam hal ini saya ingin menekankan pelayanan di BCA:

Melalui kejadian ini saya merasakan saya tidak mendapatkan empati dan tindakan yang nyata dari pihak BCA. Ibu saya sebagai nasabah yang sudah loyal kurang lebih 20 tahun dengan BCA dibiarkan sendirian menghadapi situasi ini, BCA hanya memblokir nomor rekening yang ditransferkan, namun BCA tidak melakukan langkah-langkah lain untuk membantu nasabah.
Malah saya disuruh mengurus sendiri ke polisi jika ingin membuka data-data atau menyelidiki kasus tersebut agar dana saya dapat dikembalikan. Seharusnya BCA sebagai bank yang terkemuka memiliki divisi yang melindungi nasabah dan menangani masalah-masalah seperti ini. Jika bank tidak mengamankan nasabahnya, tugas siapa lagi? semua data dan dana nasabah dipercayakan pada bank, tetapi beginikah pelayanannya?

Berdasarkan analisa saya, Bapak tersebut telah mengetahui masalah yang terjadi pada mesin ATM tersebut, sehingga beliau menggunakan kesempatan ini untuk membuat skenario menipu saya. Jadi saya digiring ke situasi seperti yang saya ceritakan diatas.

Yang saya sesalkan hal ini kenapa bisa terjadi adalah:

1. Mesin ATM non tunai tersebut memang dari awal bermasalah (layar sentuhnya tidak peka), tetapi nasabah masih dibiarkan menggunakan.

2. Sistem kartu ATM yang walaupun kartunya sudah ditarik, mesin masih menganggap kartu ada, sehingga orang tetap dapat bertransaksi tanpa kartu, dapat mengundang tindakan pembobolan tersebut terjadi. Pembobol telah mengetahui celah-celah sistem tersebut, sehingga dapat membuat skenario seperti diatas.

3. Sistem keamanan BCA tidak memadai, karena dari pihak BCA mengatakan tidak ada cctv yang merekam kejadian tersebut. Seharusnya jika memang tidak ada cctv, pihak BCA harus menyediakan satpam yang mengawasi transaksi di dalam ruangan tersebut mengingat ruangan itu terbuka umum.

Dalam hal ini membuat nasabah menjadi tidak merasa aman dan nyaman bertransaksi. Setelah kejadian ini, barulah pihak bank memperbaiki mesin tersebut dan memperingati nasabah agar menunggu sampai transaksi selesai baru tarik kartu. Saya anggap itu sudah terlambat. Tahun ini tema majalah BCA adalah Security Awarness, sebaiknya security pada mesin ATM dan semua sistem BCA juga diperhatikan sehingga kami sebagai nasabah lebih aman dan nyaman dalam bertransaksi.

Satu hal lagi, slogan BCA Peduli semoga juga berlaku disini, yaitu peduli pada kami para nasabah dan adanya tindakan nyata dan empati.
Karena saya tidak mendapati adanya penanganan yang serius akan masalah kami. Seharusnya BCA menerapkan KYC (Know your customer), sehingga nomor-nomor rekening yang ditransfer dana tidak sah tersebut bisa diselidiki dan diblokir oleh semua bank yang ada, sehingga sindikat ini bisa terbongkar dan tidak bebas berkeliaran. BCA sebagai bank swasta terbesar di Indonesia harusnya melakukan langkah-langkah pencegahan maupun mengusut kejadian-kejadian ini dengan bekerjasama dengan Kapolda sehingga orang tidak menggunakan jasa bank untuk melakukan kejahatan.

Selama ini bank tidak menunjukkan taringnya, sehingga para bajingan kerah putih dengan leluasa menggunakan fasilitas bank untuk melakukan kejahatan. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan misalnya pada saat nasabah baru mendaftar, BCA harusnya punya tim yang menyelediki keabsahan data tersebut, sehingga nasabah yang terdaftar benar-benar sesuai alamatnya dan datanya. Terus terang setelah mengalami masalah ini, selain menanggung kerugian secara materi, kami dirugikan juga secara mental. Setiap kali melihat mesin ATM BCA saya jadi trauma karena merasa tidak ada keamanan lagi dalam bertransaksi di ATM BCA yang terbuka umum. Dana Rp 80,000,000,- mungkin bagi BCA kecil, tapi bagi kami sangat berarti.

Bagaimana publik dapat mempercayakan dananya kepada BCA dengan banyaknya kejadian-kejadian jika BCA tidak cepat mengkritisinya.

Indrawati T.

Gn.Lompobattang no.180
Makassar

Tanggapan Surat Pembaca
BCA
Kebobolan lewat ATM non Tunai BCA Dan Lambatnya Tanggapan Dari BCA Kamis, 19 Februari 2009 | 18:25 WIB

Dengan hormat,

Sehubungan dengan keluhan Ibu Indrawati T. yang disampaikan melalui media Kompas.com pada tanggal 30 Januari dengan judul Kebobolan Lewat ATM non Tunai BCA dan lambatnya Tanggapan dari BCA, sebelumnya kami turut menyesalkan kejadian yang Ibu alami beberapa waktu yang lalu.

Sebagaimana telah Ibu sampaikan kepada kami bahwa pada saat transaksi dilakukan, nasabah dibantu seseorang sehingga tanpa disadari telah terjadi transaksi yang tidak diinginkan nasabah dan sebagaimana telah dijelaskan oleh petugas BCA kepada Ibu Indrawati pada tanggal 9 Januari
2009 maupun melalui surat nomor 0755/BHB/I/09 bahwa BCA telah berupaya membantu nasabah menyelesaikan permasalahan yang disampaikan.

Untuk itu, kembali kami menghimbau dan berharap kepada seluruh nasabah BCA untuk senantiasa waspada terhadap sekeliling saat melakukan transaksi baik di mesin ATM Tunai maupun ATM Non Tunai.

Demikian kami sampaikan, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Dwi Narini

PT Bank Central Asia Tbk

Menara BCA Grand indonesia
Jakarta

Advertisements