Dalam sebuah pertandingan lari marathon di New York, tampak seorang peserta, yang notabene seorang veteran perang Vietnam, yang dengan penuh semangat berusaha bersaing dengan lawan- lawannya untuk mencapai garis finish. Satu hal yang istimewa dari peserta itu adalah ia tidak berlari dengan menggunakan kakinya seperti hal nya ribuan peserta yang lainnya, melainkan dengan kedua tangannya. Hal ini terjadi karena ia kehilangan kedua kakinya ketika ia ikut bertempur di medan perang.
 
Para penonton berdecak kagum melihat keberanian dan tekad laki- laki cacat itu untuk mengikuti perlombaan yang menguras tenaga. Merekapun beramai- ramai memberikan dukungan kepada peserta yang luar biasa itu. “Ayo terus, jangan menyerah, kamu pasti bisa!!” Teriak para penonton dari tepi lapangan. Laki- laki itu terus berlari dengan menggerakan kedua telapak tangannya yang mulai berdarah.
 
“Maju terus, sedikit lagi. Ayo kamu bisa!” seru para suporter berulang- ulang.
 
Dengan tubuh yang bermandikan keringat dan telapak tangan yang bercucuran darah, akhirnya ia berhasil mencapai garis finish meski harus menempuh waktu lebih dari 4 haridan merupakan peserta terakhir yang memasuki garis finish.
 
Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan bertanya kepada laki- laki itu. “Apakah kamu tidak merasa sakit berlari dengan menggunakan tangan?” tanya wartawan itu dengan kagum.
 
“Oh, sakit, sakit sekali” jawabnya sambil mengekspresikan rasa skitnya.
 
“Kalau sakit, mengapa kamu terus berlari?” lanjut wartawan penasaran.
 
“Rasa sakit itu hanya muncul ketika saya menengok ke belakang, tetapi ia akan segera hilang ketika saya melihat ke depan, ke garis finish yang telah menjadi tujuan saya” lanjut laki- laki itu sambil tersenyum.
 
Si wartawan terkagum- kagum mendengar jawaban itu, dan ia merasa bersyukur karena telah mendapatkan pelajaran berharga dari seorang cacat yang memiliki tekad dan tujuan yang jelas sehingga ia bisa mengabaikan rasa sakit dan berbagai macam rintangan ketika hendak mencapainya

Advertisements